Kamis, 22 Januari 2009

Darah Indonesia dari Sharita

Ia bergelar Miss Universe Belanda 2005. Dara manis berkulit sawo matang, lencir, bertinggi badan 180 sentimeter itu bernama lengkap Sharita Mariella Sopacua. Ia memang Noni Belanda. Namun, justru nama Indonesia yang selalu tersimpan di hatinya.

Setengah dari darah yang mengalir di tubuh perempuan murah senyum dan energik itu adalah darah Indonesia, tepatnya Saparua. Dari pulau itulah ayah Sharita berasal. Sementara itu, sang ibu adalah Noni Belanda asli. Sejak dilahirkan di ’s-Hertogenbosch, Belanda, 13 April 1983, Sharita belum pernah tinggal di Indonesia.

Walau begitu, keindonesiaannya tak pernah hilang. Bahkan ia bawa hingga ke tingkat pergelaran Miss Universe 2005 di Bangkok, Thailand. Di malam final, Sharita menolak mengenakan busana tradisional negaranya, Belanda. ”Wah, itu sama sekali bukan saya. Setengah dari darah saya adalah Indonesia,” lanjutnya. Di malam final Miss Universe itu, Sharita memilih mengenakan kebaya yang dipadu dengan rok bawah lebar dan mekar ala Belanda karya perancang Belanda.

”Ketika ditanya mengapa saya mengenakan kebaya dan rok ’Belanda’, saya katakan bahwa setengah dari darah saya adalah Indonesia. Busana saya malam ini adalah perpaduan antara Indonesia dan Belanda,” jelasnya.

Dalam resume yang dikeluarkan panitia pemilihan ”Miss Universe Netherland 2005”, tertulis ”Sharita Sopacua, of Indonesian origin, … gained Saturday 16 of April (2005) the crown of ’Miss Universe Netherland 2005’ and therefore she will represent her country in the My Universe to take place in Bangkok, Thailand, 31 of May (2005).” Penjelasan itu menjawab pertanyaan berbagai kalangan tentang asal-usul kulit coklat Sharita.

Pulang kampung

Mengenal Indonesia lebih dalam telah menjadi obsesinya cukup lama. Dorongan itu semakin kuat ketika ia sering diminta pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Belanda sebagai pembawa acara. Kesempatan ini mendorongnya semakin ingin mempelajari seluk-beluk dan bahasa Indonesia.

Meski menguasai bahasa Inggris, Belanda, Jerman, dan Perancis, tetapi Sharita merasa belum lengkap tanpa bahasa Indonesia. Kemampuannya berbahasa Indonesia tidak terasah ketika sang ayah berhenti menggunakan bahasa itu di saat usianya menginjak tiga tahun.

”Saya sangat sedih mengapa Ayah menghentikan itu. Beliau pikir, saya toh akan tinggal di Belanda, karena itu tidak perlu bahasa Indonesia lagi. Tetapi kenyataannya, sekarang saya perlu. Dan, sekarang ketika saya minta Ayah kembali berbahasa Indonesia, beliau mengatakan, sudah tidak bisa lagi...,” ceritanya. Akibatnya, sangat sedikit kata Indonesia yang ia kuasai. Tepatnya, tak lebih dari sapaan awal, seperti ”apa kabar, terima kasih, saya baik-baik”, dan seterusnya.

”I feel better. I feel much much better, now,” kata Sharita, Senin (4/8). Hari itu, impiannya menjadi kenyataan. Ia benar-benar berada di Tanah Air Indonesia. Sharita menjadi satu dari 52 peserta beasiswa Seni dan Budaya Indonesia 2008 yang diikuti 31 negara.

Program itu merupakan salah satu kesempatan untuk mendalami seni dan budaya Indonesia selama sekitar tiga bulan. Ada empat tempat yang disediakan, yaitu Bandung, Yogyakarta, Solo, dan Denpasar. Dari empat kota itu, Sharita dengan mantap memilih Denpasar. ”Saya pernah ke sana dan saya sangat suka Bali,” katanya memberi alasan.

Dengan ceria Sharita bercerita tentang rencananya di Bali. Ia tidak hanya akan belajar bahasa Indonesia, tetapi juga akan mempelajari seluruh adat dan kebudayaan Bali, termasuk tari Bali. ”Look, tangan saya sangat Indonesia, karena itu saya ingin belajar menari Bali. Jadi kalau saya kembali (ke Belanda) nanti, saya sudah bisa berbahasa Indonesia dengan lancar dan menari Bali,” kata Sharita sambil menunjukkan jemari tangannya yang lentik dan lentur.

Senyumnya mengembang. Bola matanya yang berwarna coklat itu berbinar ketika ia pun diizinkan menengok Desa Ihamahu, Pulau Saparua, Maluku Tengah, kampung halaman sang ayah. Ini adalah kesempatan pertamanya mudik ke Ihamahu.

Tetap bangga

Sharita antusias menjawab segala bentuk pertanyaan, terutama yang menghubungkan dirinya dengan Indonesia. Tawanya langsung meledak kala pertanyaan sampai pada kemungkinan ia jatuh cinta pada pria Indonesia. ”Yang pasti, saya tidak suka pria yang lebih rendah dari saya. Tetapi, selama di sini, saya melihat peluang yang cukup besar.…,” ujarnya sambil tertawa.

Ketika persoalan mengarah pada kesan tentang Indonesia dalam realita, Sharita mengaku tetap tidak menyesal dengan darah keindonesiaannya. Sebaliknya, puteri Belanda yang kini menekuni dunia modeling di New York dan Utrecht itu justru sangat bangga dengan kebinekaan dan keberagaman Indonesia. Tak ada hal lain yang ia harapkan kecuali kebersatuan di dalam keberagaman. ”Indonesia adalah Indonesia. Meski saya berasal dari Maluku, tetapi saya adalah Indonesia. Dan saya tetap bangga menjadi Indonesia...,” ujar mahasiswi Universitas Utrecht itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar